Tampilkan postingan dengan label Contoh KTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh KTI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

Contoh KTI( Karya tulis Ilmiah) Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian

Instrumen penelitian yang dipakai dalam pengumpulan data adalah kuesioner yang mengacu pada kerangka konsep yang diajukan untuk memperoleh gambaran tingkat pengetahuan siswa dan siswi kelas 5 MI TPI. Lembar kuesioner yang berbentuk multiple choice, dimana responden diminta untuk memberikan tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang tersedia. Jawaban benar akan diberi nilai 1 dan jawaban salah diberi nilai 0. Kemudian dinilai dengan rumus Anas 2008 :
P=f / n x 100%
Keterangan :
P = Presentase
f = Jumlah jawaban yang benar
n = jumlah skor maksimal, jika pertanyaan dijawab benar
setelah persentase ini diketahui kemudian hasilnya di interprestasikan menurut Penilaian tingkat pengetahuan menurut Arikunto (2006) yaitu :
1. Baik : hasil persentase 76%-100%
2. Cukup : Hasil persentase 56%-75%
3. Kurang Persentase < 56 %

Kamis, 20 Oktober 2011

Contonh Latar Belakang Pembuatan KTI Dengan Judul Hipertensi


BAB I
PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG
         Dalam kondisi alam dan masyarakat saat ini yang sangat kompleks, semakin banyak bermunculan berbagai masalah. Masalah kesehatan yang cukup dominan khususnya dinegara-negara maju yaitu semakin banyaknya penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. (Dalimartha,dkk.2008:6).
         Menurut Muhamaddun (2010:20) Berdasarakan data Lancet (2008), jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia terus mrningkat. Di India, misalnya, jumlah penderita  hipertensi mencapai 60,4 juta orang pada tahun 2002 dan diperkiakan 107,3 juta orang pada tahun 2025. Di Cina, 98,5 juta orang mengalami hipertensi dan bakal menjadi 151,7 juta orang pada tahun 2025. Di bagian lain di Asia, tercatat 38,4 juta penderita hipertensi pada tahun 2000 dan diprediksi akan menjadi 67,4 juta orang pada tahun 2025. Di Indonesia, mencapai 17-21 % dari propensi penduduk dan kebanyakan tidak terdeteksi. Sementara itu, Guru besar teknologi pangan IPB, I Made Astaman (2002) menjelaskan bahwa hasil survei kesehatan rumah tangga tahun 1995 menunjukan rata-rata penyakit hipertensi atau tekan  darah tinggi di Indonesia cukup tinggi, yaitu 83 per 1.000 anggota rumah tangga. Pada umumnya, perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan pria. Hal tersebut terkait eret dengan pola makan, terutama komsumsi garam, yang umumnya lebih tinggi (Muhamaddun 2010:20).

         Hipertensi mulai terjadi seiring bertambahnya umur. Pada populasi umum, pria lebih banyak yang menderita penyakit ini dari pada wanita (39% pria dan 31% wanita). Prevalensi hipertensi primer pada wanita sebesar 22%-39% yang dimulai dari umur 50 sampai lebih dari 80 tahun, sedangkan pada wanita berumur kurang dari 85 tahun prevalensinya sebesar 22% dan meningkat sampai 52% pada wanita berumur lebih dari 85 tahun. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Usia 40 sampai 55 tahun banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu (Dalimartha, 2008:9) .               
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angka kejadian hiperteensi di dunia cukup tinggi yaitu 10% dari populasi dunia. Data Hypertansion League Brochure 2009 menyebutkan bahwa hipertensi diderita lebih dari 1,5 miliar jiwa di seluruh dunia dan garam yang berlebihan adalah faktor utama dalam meningkatkan tekanan darah. “Hipertensi dianggap hal yang biasa karena gaya hidup kehidupan modern. Asupan garam yang tinggi merupakan penyebab hipertensi yang banyak ditemukan dari tahun ketahun,” papar dokter yang berpraktek di rumah sakit harapan kita. Secara global menurut data yayasan jantung Indonesia, tujuh juta jiwa meninggal tiap tahunnya akibat menderita tekanan darah tinggi (Dalam Gusti, KTI 2010:1)
Di Indonesia belum ada data nasional namun, pada studi MONICA 2000 di daerah perkotaan Jakarta dan FKUI 2000-2003 di daerah Lido pedesaan kecamatan Cijeruk memperlihatkan kasus hipertensi derajat II (berdasarkan JNC VII) masing-masing 20,9% dan 16,9%. Hanya sebagian kecil yang menjalani pengobatan masing-masing 13,3% dan 4,2%. Jadi di Indonesia masih sedikit sekali yang menjalani pengobatan (Muhammadun 2010:15).
                Kalimantan Selatan penderita hipertensi mencapai 32,67% dan termasuk dalam 10 daerah yang prevalensi penderita hipertensinya tertinggi. Saat ini penderita hipertensi di Kalimantan Selatan mengalami pergeseran umur, dari sebelumnya biasa menyerang usia di atas 40 tahun saat ini hipertensi banyak menyerang usia lebih muda, kurang dari 30 tahun (Admin,2011).
Berdasarkan catatan buku register Puskesmas 9 November pada tahun 2010, hipertensi menempati urutan keempat penyakit terbanyak yaitu 2218 (14,2%) dari total kunjungan pasien sebanyak 15576, setelah penyakit Batuk sebanyak 3239 (20,7%) dan Gastritis sebanyak 2840 (18,2%), Artritis sebanyak 2308 (14,8%), dari data puskesmas 9 November tersebut pengunjung yang terbanyak ketiga adalah masyarakat pengambangan RT 04 Banjarmasin.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 responden pada tanggal 24 Maret 2011 di masyarakat pengambangan RT 04 melalui  wawancara langsung tentang pola makan (garam),gaya hidup, dan kebiasaan mengkonsumsi kopi/rokok yang merupakan factor-faktor penyebab hipertensi,diketahui bahwa sebanyak 3 responden berumur 50 tahun ke atas, 2 responden berumur antara 45-49 tahun dan 5 responden berumur kurang dari 45 tahun. Dari 10 responden tersebut juga diketahui bahwa 6 responden memiliki pekerjaan dan 4 responden tidak bekerja (ibu rumah tangga). Dari 10 responden tersebut di ketahui 5 responden berjenis kelamin laki-laki dan 5 responden berjenis kelamin perempuan.
  
  Dampak penyakit hipertensi berkembang dari tahun ke tahun dan membuahkan banyak komplikasi. Hipertensi adalah faktor resiko utama pada penyakit jantung, serebral (otak), renal (ginjal), dan vas-kular (pembuluh darah) dengan komplikasi berupa ’’infark miokard’’ (serangan jantung), gagal jantung, stroke (serangan otak), gagal ginjal dan penyakit vaskular perifer. Akibat tekanan darah tinggi yang berlanjut terus, maka jantung bekerja lebih keras, hingga otot jantung membesar. Kerja jantung yang meningkat menyebabkan pembesaran yang dapat berlanjut menjadi gagal (heart failure). Selain itu, tekanan darah tinggi juga berpengaruh terhadap pembuluh darah koroner di jantung berupa terbentuknya plak (timbunan) aterosklerosis yang dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan menghasilkan serangan jantung (heart attack) (Djoko Merdikoputro, 2011).

Rabu, 19 Oktober 2011

Konsep Diri


Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya pintar, cerdas, dan mampu menyelesaikan tugas-tugas akademik sekolah dengan baik, sukur-sukur rangking satu. Harapan inilah yang menyebabkan orang tua berlomba-lomba memfasilitasi berbagai macam keperluan anak, termasuk les privat berbagai macam. Harapannya agar anak menjadi siswa seperti yang diharapkan.  Meskipun sudah dileskan berbagai macam pelajaran, masih banyak anak yang berprestasi rendah padahal berdasarkan tes inteligensi (IQ) anak termasuk berIQ rata-rata bahkan superior (lebih besar dari 110 skala Weschler).

 Berdasarkan hasil penelitian Yumil Achir (dalam Utami Munandar, 2004) sekitar 39 % siswa berbakat di Jakarta memperoleh nilai di bawah rata-rata.  Bahkan dari hasil penelitian di Amerika Serikat diperkirakan antara 15–50% anak berbakat berprestasi kurang (underachiever). Pertanyaannya adalah “mengapa anak berprestasi di bawah kemampuannya?”. Banyak teori untuk menjelaskan kenapa anak berprestasi di bawah potensinya (uncerachiever). Menurut Utami Munandar (2004), salah satu penyebabnya adalah latar belakang seorang, yang menyangkut rasa harga diri yang rendah. Rasa harga diri yang rendah adalah ketidakpercayaan atas kemampuan yang dimiliki. Mereka tidak percaya bahwa mereka mampu melakukan apa yang diharapkan orang tua dan guru dari mereka.  Untuk menutupi rasa harga diri mereka, biasanya dengan perilaku berani dan menentang atau dengan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri. Misalnya dengan menyalahkan sekolah atau guru atau dengan menyatakan tidak peduli atau tidak berusaha dengan sungguh-sungguh jika prestasi mereka kurang memuaskan. 
Fenomena ketidakkonsistenan antara pendidikan dan keberhasilan kehidupan tersebut memunculkan pertanyaan bagiamana sistem pendidikan yang sangat kompetitif ternyata dapat melahirkan generasi yang tangguh secara keilmuan tetapi rapuh atau gagal dalam kehidupan. Salah satu  kemungkinan penyebabnya adalah  ketika anak didik dihadapkan kepada beban pendidikan yang terlalu banyak dan ekspetasi yang terlalu tinggi dikarenakan lingkungan yang sangat kompetitif, sistem pendidikan dan lingkungan tidak memberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan konsep diri anak didik secara matang dan positif. 
Konsep diri merupakan seperangkat instrument pengendali mental dan karenanya mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Gunawan (2005) menyebutkan bahwa  seseorang yang mempunyai konsep diri positif akan menjadi invidu yang mampu memandang dirinya secara positif, berani mencoba dan mengambil resiko, selalu optimis, percaya diri, dan antusias menetapkan arah dan tujuan hidup. Terkait dengan pencapaian akademik, hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh  Shupe dan Yager (2005) dan Yeung dan Marsh dalam O’Mara dkk (2006) menunjukkan bahwa konsep diri dan pencapaian akademik siswa adalah dua hal yang saling memperngaruhi. Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam berbagai tingkatan mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguran tinggi, seseorang dengan konsep diri yang positif cenderung memiliki pencapaian akademik yang lebih baik.
Tripp Jr (2003), Shupe dan Yager (2005) mengemukakan bahwa seseorang dengan konsep diri positif akan mempunyai kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang baik pula, yang memungkinkan untuk melakukan evaluasi secara obyektif terhadap dirinya sendiri. Sementara itu menurut Germer (2004), konsep diri merupakan kunci untuk membangun komunikasi terbuka antara guru dan murid sehingga menciptakan partisipasi aktif antara keduanya dalam kegiatan belajar mengajar. Baik Germer dan Yager, menyimpulkan bahwa dengan konsep diri positif akan meminimalisasi munculnya kesulitan belajar dalam diri siswa.  Berkurangnya kesulitan belajar inilah yang pada akhirnya memungkinkan siswa untuk mendapatkan penguasaan akademik yang lebih baik. Dari sini, nampak bahwa konsep diri positif menjadi pemacu keberhasilan akademik. Meskipun demikian, menarik untuk mencermati penemuan Yan dan Haibui (2005) yang mengungkapkan bahwa anehnya pada anak-anak yang berbakat atau mempunyai kemampuan akademik yang mengagumkan, didapatkan konsep diri negatif meski tidak signifikan. Menurut Syah (2007), siswa yang sangat cerdas dapat mempunyai konsep diri yang negatif yang ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dikarenakan tuntutan keingintahuannya dirasakan tidak diperlakukan secara adil.